Kamis, 14 Juli 2016

Kisah KH. Machrus Ali dan KH. Dimyati Rois

KH. Machrus Ali pernah ber-istikharah tentang diri Abah Dim (KH. Dimyati Rois) dan mimpi yang di dapati : Kyai Machrus Ali menyaksikan Abah Dim berada di laut  dan telah meminum semua air laut sampai habis. 
Kenapa Kyai Machrus Ali ber-istikharah tentang diri Abah Dim?

Karena pada saat berusia 15 tahun, Abah Dim beranjak dari Ponpes APIK Kauman Kaliwungu ke Ponpes Lirboyo. Namun setibanya di Ponpes Lirboyo, Abah Dim masuk ke sebuah kamar dan langsung terjungkal (njungkel) sujud dan tak sadarkan diri selama hampir 4 bulan. Setelah sadar, lalu Kyai Machrus Ali mendapat isyarah yang isinya ditafsirkan oleh Mbah Dunglo bahwa Abah Dim haram mondok di Lirboyo.

Mbah Dunglo adalah seorang Ulama Khos yang sangat dihormati oleh Kyai Machrus Ali. Sehingga Abah Dim pun beberapa saat kemudian meninggalkan Ponpes Lirboyo. Setelah bertahun-tahun mengembara mencari ilmu di tempat lain, akhirnya Abah Dim datang lagi ke Lirboyo di usia 31 tahun untuk sowan dan meminta Kyai Machrus Ali yang meng-akadkan pernikahannya dengan putri KH. Ibadullah Irfan.

Setelah akad nikah di Kaliwungu, acara syukuran nikah (walimah) pun diadakan di tanah kelahiran Abah Dim di desa Tegal Glagah, Bulakamba, Brebes. Kyai Machrus Ali pun hadir pada acara syukuran nikah (walimah) tersebut. Namun, selang beberapa hari Kyai Machrus Ali kembali lagi ke Tegal Glagah hanya ingin melihat dan menanyakan kening Ibunda Abah Dim. Ini dikarenakan isyarah yang didapat Kyai Machrus Ali dan ingin memastikan perkembangan Abah Dim setelah 15 tahun mengembara mencari ilmu di luar Lirboyo. Dan jawabannya adalah hasil dari istikharah tersebut. 

Kemudian, Kyai Machrus Ali pun mempercayakan pada Abah Dim untuk mendidik kedua putranya yang bernama Gus Kafabihi Machrus.

Pada awalnya, Kyai Machrus Ali yang memilihkan salah satu putranya untuk dididik, tetapi Abah Dim punya pilihan sendiri yaitu putra Kyai Machrus Ali yang paling tidak layak untuk dipandang, yaitu Gus Kafabihi, yang ternyata sekarang menjadi penerus Kyai Machrus Ali sendiri. Di sini, Kyai Machrus Ali merasakan bahwa dalam hal pilihan mendidik seseorang, Kyai Machrus Ali memandang bahwa Abah Dim lebih jeli daripada beliau sendiri.

Wallahu A’lam

Sumber : KH. Saidi Rois (Adik kandung KH. Dimyati Rois)

Santri Ngaji: Karomah Mbah Kyai Lasem Yogyakarta


Kyai Kholil (Bangkalan, Madura) mengatakan kepada santrinya: “Tolong buatkan aku kurungan Ayam Jago, sebab besok akan ada Jagoan dari tanah Jawa yang datang ke sini.” Kemudian esoknya, datanglah seorang pemuda bernama Muhammadun (nama almarhum Mbah Ma’shoem di kala muda) dari tanah Jawa.
Oleh Kyai Kholil, pemuda itu diminta masuk ke dalam kurungan Ayam Jago tersebut. Dengan penuh pasrah dan ketundukan terhadap gurunya, pemuda itu pun masuk dan duduk berjongkok ke dalam kurungan Ayam Jago tadi. Kyai Kholil kemudian berkata kepada segenap santri beliau: “Inilah yang kumaksudkan sebagai Ayam Jago dari tanah Jawa, yang kelak akan menjadi Jagoan Tanah Jawa.”
Itulah secuil kisah nyata yang penulis kutip dari sinopsis buku Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem. Mbah Ma’shoem diperkirakan lahir pada tahun 1868. Beliau adalah anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya ia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil dia telah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawawi dia mendapat pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi.
Suatu saat, di Semarang, dia tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, melainkan, antara tertidur dan terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”.
Bahkan, ketika berada di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan: “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insyaAllah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Di kemudian hari, Mbah Ma’shoem menjadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karamah. Ini salah satu kisah karomahnya:
Suatu hari, datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum.Namun, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak.Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan.
“Apa perlu Mbah Ma’shoem dibangunkan?,” tanya Ahmad sekali lagi.
“Tidak usah,” ujar mereka serempak lalu pergi.
Rupanya saat itu Mbah Ma’shoem mendusin dan bertanya kepada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi.Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shoem lekas meminta kepada Ahmad agar mengejar tamu-tamunya. Tapi apa daya, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 meter dari rumah Mbah Ma’shoem.
Ketika Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shoem, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Mbah Ma’shum tertidur pulas lagi.
Subhanallah… Inilah bagian dari kisah karomah betapa kyai Ma’shoem memiliki ketinggian kedudukan spiritualnya. Selain ini, masih terdapat banyak karomah yang terjadi dalam hidup beliau. Akhirnya, pembaca Media Ikhram, semoga dengan kisah ini dapat bermanfaat dan mengambil pelajaran dari karomah almarhum Kyai Ma’shoem. Wallahu a’lam bisshawab…
Sumber: Sayyid Chaidar, Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem, (Yogyakarta: Menara Kudus, 1013) dan Majalah Al-Kisah No.26/Tahun VII (www.sarkub.com)