Senin, 23 Januari 2017

BELAJAR DENGAN METODE TAQLIDY,
BERSANAD DAN JELAS KEILMUANNYA

  
Sebagaimana sebuah paragraf yang terdapat paragraf deduktif maupun induktif, proses pembelajaran pun bisa di analogikan seperti demikian. Dikatakan deduktif bila kalimat inti ada di depan sedangkan induktif kebalikannya. Pembelajaran secara deduktif mendahulukan hal yang sulit dibanding dengan yang mudah, berbalik dengan pembelajarn induktif yang mengedepankan hal yang mudah dulu baru kemudian yang sulit. Keduanya pun sah-sah saja diterapkan dengan argumen masing-masing.

Bagi para pembelajar yang memilih cara deduktif, mereka bepegang bahwa setelah yang sulit dikuasai maka yang mudah pun akan mengikuti. Berbeda dengan yang memilih cara induktif, mereka berkesimpulan bahwa dengan cara ini pembelajaranpun menjadi lebih sistematis, materinya pun lebih mudah dicerna serta efesiensi waktu.

SAKAL (Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an) sebagai lembaga yang bisa dibilang masih muda memantapkan diri untuk memilih cara induktif. Dengan memakai manhaj tarbawi yang dirintis oleh guru besar kita Syeikh Belaid Hamidy. Kami memulai pembelajaran kaligrafi dengan khath Riq’ah kemudian khath Diwani. Setelah selesai khath diwani maka pembelajar akan mendapatkan materi Jaly  Diwani. Berikutnya adalah khath Ta’liq baru kemudian khath Naskhi dan Tsuluts. Kesemuanya disampaikan dalam cara yang modern tapi tetap berpegang teguh pada semangat metode taqlidy/klasik. Salah satu hasil dari metode ini adalah sanad dan ijazah.

 Metode Taqlidy

Disebut juga metode klasiky, hal ini tidak lepas dari penggunaannya yang telah dipakai sekian lama olehkibārul khaththōthīn terdahulu. Metode ini disebarkan secara turun menurun dengan pengawasan ketat dari guru yang bersangkutan, sehingga kualitas pembelajar disini tidak diragukan. Sebut saja kaligrafer terakhir era Turki Utsmani Hamid Aytac Al-Amidiy, Ustādzul JaylHasan Celeby murid Hāmid yang juga guru dari Syaikh Belaid Hamidiy dan Mikroskop Khath Dawud Bektas. 

Karena metode ini berpusat pada guru (guru merupakan rujukan pertama tempat memperoleh penjelasan mengenai asrorul huruf yang tidak bisa diperoleh dengan hanya melihat kurrasah atau buku pedoman), maka seorang guru disini harus benar-benar kredibel, menguasai benar seluk beluk khath yang diajarkan. Bisa dibayangkan jika seorang guru semisal mempunyai nilai 60 dari total seratus, bagaimana nanti kualitas muridnya kemudian murid dari muridnya, cucu muridnya dan seterusnya. Tentunya secara logika kualitasnya lambatlaun  akan stagnan kalau tidak mau disebut menurun, walaupun tidak menutup kemungkinan dari guru yang kurang kredibel tersebut muncul beberapa murid yang lebih bagus, tapi sekali lagi itu satu banding seribu, jarang sekali terjadi.

Secara singkat teknis metode ini bisa digambarkan sebagai berikut. Seorang guru memberi tugas kepada muridnya untuk menulis sesuatu sesuai dengan kurrasah semisal huruf alif sampai fa’. Maka si murid setelah melakukan tugas, mentashihkan kepada guru bersangkutan, ketika ada salah mengulangi lagi dari awal, begitu seterusnya sampai si murid dinyatakan lulus oleh gurunya. Selama proses pembelajaran murid dilarang untuk menulis sesuatu yang belum di ajarkan hal ini menghindari kesalahan yang mungkin akan sulit diperbaiki, sebab apa yang diperoleh pertamakali dan tanpa ada koreksi akan selalu menancap di hati dan sulit untuk dihilangi. Selain memberikan koreksi dan rahasia huruf ketika proses tashih, guru juga dituntut untuk memberikan penanaman akhlak serta pengetahuan lain semisal sejarah khat, cara pembuatan karya dan lain sebagainya.

 Ketika murid sudah selesai dengan kurrasah khath yang dipelajari, tidak serta merta murid tersebut dikatakan rampung dalam mempelajari khat tersebut. Seorang guru biasanya menyuruh murid untuk mencontoh lauhah atau qit’ah para khattath terdahulu sebelum si murid membuat lauhah sendiri dengan ide maupun kemampuan murninya yang telah diperoleh dari pembelajaran gurunya. Setelah dirasa cukup dengan kemampuan mustawa yang telah ditentukan murid diberi tugas akhir biasanya berupa hilyah syarifah atau qit’ah. Tugas akhir itulah yang nantinya menjadi ijazah seorang murid.

  Ijazah

Ijazah itu secara umum bisa dikatakan sebagai pemberian kewenangan/perkenan kepada seorang murid untuk mengajarkan khath tertentu setelah gurunya puas dengan kemampuan dan penguasaan murid atas khath tersebut. Dalam ijazah tersebut dinyatakan bahwa si murid diperbolehkan untuk mencantumkan namanya maupun tauqi’nya (tandatangan)  di bawah tulisannya. Perlu diketahui bahwa seorang murid dilarang mencamtumkan tauqi’ dalam karyanya sebelum ia selesai mendapat ijazah dari gurunya. Dengan adanya pernyataan tersebut maka secara tidak langsung si murid berhak menyandang gelar khattath dengan berbagai konsekuensinya.

Ijazah mempunyai bermacam-macam redaksi dalam penulisannya. Sebagian besar menggunakan format sebagai berikut,
-   Basmalah atau ayat Qur-an atau Pujian terhadap Allah
-   Shalawat kepada Nabi
-   Nama murid dan pernyataan telah belajar dari guru bersangkutan
-   Pernyataan ijazah
-   Nama guru dengan sanad keilmuannya
-   Doa
-   Tanggal dan tempat dikeluarkan ijazah
Contoh nash ijazah (milik ust. Zainuddin pada khath jali diwani dan diwani) yang telah ditranslete kedalam bahasa Indonesia, “Bismillāhirrahmānirrahīm wa shalātu wa salāman dā-imaini ‘ala sayyidinā muhammadin wa ‘alaālihi wa shahbihī afdhalal umam… Amma ba’du. Penulis Qit’ah mubārakah ini yaitu saudara Muhammad Zainuddin bi Ahmad telah menempuh pelajarannya dengan seksama dan tulisannya sesuai dengan apa yang telah diajarkan gurunya. Kami memberi Ijazah (kewenangan) untuk membubuhkan namanya disetiap tulisannya. Saya Belaid Hamidiy dan saya Jamal Binsaid (muayyid/pendukung). Murid dari Ali Alparslan, murid dari Musthafa Hālim Ozyazicy, murid dari Farid Bik. Ghafarallāhu lahum. Ditetapkan di Kairo pada permulaan bulan Muharram tahun 1433 Hijriyyah”.

Ijazah merupakan salah satu wujud nyata dari kesungguhan murid dalam belajar, suatu proses yang tidak bisa disebut sebentar ataupun instan. Tapi, ketika murid sudah mendapat ijazah bukan berarti belajarnya usai melainkan ijazah itu adalah pintu masuk untuk menyelami khath lebih dalam lagi, guru hanya mengantar dan membimbing sehingga bisa sampai ke pintu tersebut. Setelah itu murid bisa leluasa meng-eksplore lebih lanjut pengetahuannya dari berbagai sumber, tentunya dengan tidak melupakan guru yang telah membimbingnya.

Ijazah juga merupakan bentuk legalitas sanad keilmuan yang diperoleh dari gurunya. Murid menimba ilmu dari gurunya, gurunya menimba ilmu dari guru sebelumnya, dengan jalan sanad yang bersambung sampai kepada murid tersebut. Dan semua orang selalu meneliti dari siapa murid menimba ilmunya. Dengan demikian, si murid adalah penjaga-penjaga ilmu dan sebagai pintu gerbangnya. Sebuah maqalah mengatakan, “Janganlah kalian memasuki rumah kecuali dari pintunya, barang siapa yang memasuki rumah tidak melalui pintunya, disebut pencuri.

Ijazah sendiri ada dua macam, ijazah masyq dan ijazah tabarruk wa taqdir (ijazah penghargaan). Yang dibahas di atas adalah ijazah masyq yaitu ijazah yang didapat karena telah menyelesaikan belajar dari guru. Sedangkan ijazah tabarruk wa taqdir itu semisal ijazah yang diterima khaththath Hasyim al-Baghdadi oleh Hamid Aytac al-Amidy. Jadi bisa dikatakan Hasyim al-Baghdady tidak bisa disebut murid Hamid Aytac al-Amidy dalam pengertian murid yang belajar dari gurunya asrar tulisan dari awal sampai akhirnya mendapat ijazah.

 Pentingnya Sanad

Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, secara bahasa sanad adalah hubungan. Sanad merupakan sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilahi adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita. Sanad hadits misalnya mengambil dari fulan, dari fulan, dari fulan itu salah satu contoh sanad dan sanad kita sanad keguruan dari guru saya, guru saya dari gurunya, dari gurunya, dari gurunya, sampai Rasul shallallāhu 'alaihi wasallam.

Imam Syafi’i ~rahimahullāh mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullāh mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”

"Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw," (Habib Munzir)

Dari berbagai pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semua ilmu itu perlu sanad, termasuk dalam mempelajari khath. Sebab bukan hanya keilmuan saja yang bersambung melainkan juga akhlaq, ikatan perasaan antara guru dengan murid. Guru selain bertanggung jawab akan keilmuan si murid juga bertanggung jawab atas akhlaq muridnya sampai akhir hayatnya. Hal ini sejalan dengan ungkapan Yaqut al-Musta’shimy yaitu “Al-khaththu handasatun ruhāniyyatun dhaharat bi ālatin jismāniyah”. Artinya penekanan pembelajaran khath disini selain dari segi keilmuan juga menyentuh pada olah jiwa, penghalusan dan pembagusan akhlaq. Tak pelak bahwa khath merupakan seni warisan budaya Islam yang wajib kita banggakan dan pertahankan dengan sumber yang jelas.

Metode taqlidy merupakan metode lintas zaman yang tak lekang oleh waktu. Penggunaanya dari masa ke masa dari awal berkembangnya khath sampai sekarang pun masih tetap relevan untuk diterapkan, tentunya dengan berbagi bentuk rupa yang telah diubah sesuaikan dengan situasi dan kondisi dengan tanpa merubah semangat dan pokok dari metode tersebut. Dengan salah satu hasil berupa Ijazah dan juga Sanad yang jelas maka keilmuan dari seseorang yang menempuh metode ini dapat di pertanggung jawabkan. Dengan metode ini khath akan terjaga kemurniannya.
Karena dalam metode ini peran guru sangatlah penting, maka tidak berlebihan jika taqlidy  merupakan metode yang tepat untuk pembelajaran kaligrafi. Seperti dalam maqalah, “al-khaththu makhfiyyun fiy ta’ālimil ustadz waqiwāmuhu fiy katsratil masyq wa dawāmuhu ‘alad dīnil islām”. bahwa “khath itu tersembunyi dalam pengajaran guru dan tegaknya adalah dengan banyaknya latihan serta langgengnya berdasarkan agama islam”.
Dari metode inilah muncul para pembesar-pembesar khaththath yang berpengaruh di zamannya. Tak hanya diakui keluasan ilmu maupun hasil karyanya melainkan juga akhlaq perilakunya. Dengan ini, masih ragukah kita terhadap metode ini?
by: Feri Budiantoro

Minggu, 22 Januari 2017

Sekilas Kitab Alfiyah Ibnu Malik Dan Tips Manjur Menghafal Nya.
Sekilas Kitab Alfiyah Ibnu Malik Dan Tips Manjur Menghafal Nya.
Terlihat setiap kali menjelang fajar adzan subuh di  sudut serambi masjid Al Muhajirin Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, seorang santri duduk menghadap kiblat,beralaskan sajadah bergambar masjid dengan kopiah putih menempel di kepalanya. Entah apa yang sedang di lakukannya,dan entah dari mulai jam berapa dia sudah duduk di serambi masjid itu,yg jelas ia hampir setiap malam,ketahuan Pengurus Pondok seperti itu.Ia memegang kitab kecil seukuran buku saku yang kertasnya berwarna kuning. Kepalanya menghadap keatas dengan mata terpejam, sesekali ia turunkan pandangannya kearah kitab kecil di tangan kanannya.
Dahinya mengerut, menandakan keseriuasan mendalam. Seolah ada suatu memori yang coba ia putar didalam batok kepalanya. Mulutnya pun tak berhenti bergerak berkomat kamit. Apa yang sebenarnya yang ia lakukan? Ia sedang menghafalkan bait demi bait dari kitab: “ALFIYAH” yang berjumlah 1002 bait.
Dalam literatur pesantren di Indonesia, sudah tak asing lagi bahkan hampir seluruh pesantren menyertakan alfiyah sebagai salah satu pelajaran wajib dan menjadi tolak ukur sejauh mana kepandaian seorang santri dalam ilmu gramatikal arab.
Karya monumental ini dikarang oleh maha guru Syeh Muhammad bin Abdullah nin Malik Al-Andalusy atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Ibnu Malik. Alfiyah memang menarik. Bahkan telah masyhur dikalangan pesantren bahwa seorang santri belum dikatakan “santri” jika belum menguasai atau setidaknya mempelajari Alfiyah.
Sudah pasti kitab ini amat menarik,Karena dalam kitab Alfiyah ini Mushonif sendiri ( Pengarang )sudah menyebutkan “Adapun Kitab Alfiyah ini adalah Kitab yang Ringkas berbentuk Nadzam, namun mencakup semua pembahasan masalah Ilmu Nahwu dengan detil. Sebagaimana beliau katakan pada Bait Muqaddimah pada Kitab Alfiyah ini:
“Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu”.
Metode Kitab Alfiyah ini sebenarnya cukup memberikan kemudahan bagi pelajar untuk menguasainya. Tidak hanya untuk para senior. Karena Alfiyah ini cukup mengandung pengertian yang sangat luas, tapi dengan lafad yang ringkas. Sebagaimana beliau memberi penilaian terhadap Kitab Alfiyah ini, dalam Muqaddimahnya yang berbunyi:
“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat”
Kitab Alfiyah ini, disebut juga Kitab Khalashah yang berarti Ringkasan. Diringkas dari Kitab karangan beliau yang benama Al-Kafiyah As-Syafiyah, merupakan Kitab yang membahas panjang lebar tentang Ilmu Nahwu. Sebagaimana beliau berkata pada Bait terahir dari Kitab ini, yaitu pada Bait ke 1000:
“Telah terbilang cukup kitab Khalashah ini sebagai ringkasan dari Al-Kafiyah, sebagai kitab yang kaya tanpa kekurangan”.
Beliau juga memberi motivasi, bahwa Kitab ini dapat memenuhi apa yang dicari oleh para pelajar untuk memahami Ilmu Nahwu. Beliau berkata pada Bait ke 999
“Aku rasa sudah cukup dalam merangkai kitab Nadzom ini, sebagai Kitab yang luas pengertiannya dan mencakup semuanya”.
Sebelum masuk bahasan judul, baik nya ada sekilas ulasan tentang Kitab Alfiyyah dan Pengarang nya :

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf . Kitab Alfiyyah Ibnu Malik adalah kitan populer dan melegenda dalam ilmu Gramatika / tata bahasa  arab. Kitab ini di kenal dibelahan dunia, baik daratan timur maupun barat. Di barat, “The Thousand Verses” nama lain dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik.
Alfiyyah ibnu Malik dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab.

Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik juga di kaji diberbagai daerah. Pesantren-pesantren yang tersebar diwilayah Nusantara hampir tidak ada yang menyingkirkan peranan kitab ini.
Besarnya peranan Alfiyyah Ibnu Malik tampaknya menjadi titik puncak bagi harapan si pengarang. Ibnu Malik pernah mengungkapkan melalui satu bait dalam nadzomnya; “Waqad yanubu ‘anhu ma ‘alaihi dal kajidda kullal jiddi wafrokhil jadal”. Nadzom ini seolah-olah mengisyaratkan keinginan Ibnu Malik bahwa Alfiyyah yang benar-benar telah menggantikan perannya munjukkan seperti sebuah langkah penuh keseriusan dan kebahagiaanyang tiada tara.

Harapan akan manfaat kitab Alfiyyah Ibnu Malik bagi dinamika ilmu keislaman juga pernah diungkapkannya melalui salah satu bait dalam nadzomnya; “Wallahu Yaqdhi bihibatin waafiroh li walahu fi darojatil akhiroh”. Semoga dengan ampunan yang sempurna, Allah memberikan aku Dan dia (IbnuMu’thi guru imam sibawaih) sebuah draja tyang tinggi diakhirat.
Kelebihan mengkaji Ilmu Nahwu-Shorof khususnya alfiyah dibandingkan dengan ilmu fiqh dan lainnya adalah ketetapan qoidahnya. qoidah  Nahwu-Shorof merupakan ilmu yang paten/pasti yaitu qoidahnya tidak akan pernah berubah ila akhirizzaman.sedangkan didalam ilmu fiqh akan selalu terus berkembang  mengikuti zaman, seiring muncul dan berkembangnya suatu masalah.Begitu banyak orang yang cenderung mengkaji alfiyyah, sampai-sampai Ibnu Malik sebagai pengarangnya dinobatkan sebagai Taj ‘ulama an-Nuhaat (Mahkota Ilmu Nahwu).

Pengarang Kitab Alfiyyah Ibnu Malik. :

Pengarang Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar Bahasa Arab, Imam yang Alim yang sangat luas ilmunya. Beliau mempunyai nama lengkapAbdullah Jamaluddin Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 600 H. Kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada Tahun 672 H. ( Wallohu ‘Alam)

Ibnu malik juga mendapatkan nama laqob (julukan) Jamaluddin dan nama kunyah Abu Abdulloh,Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karang-mengarang buku-buku ilmiah.

Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaibuni (w. 645 H). Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus.

Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby(w.643H).Di kawasan dua kota ini nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu.
Di antara penulis-penulis syarah Alfiyah lainnya, yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini, adalah Al-Muradi, Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan Al-Asymuni.

Al-Muradi (w. 749 H) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain Al-Damaminy (w. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibnu Hisyam ketika menyusun Al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi.
Ibnu Hisyam (w.761 H) adalah ahli nahwu terkenal yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah .Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufa, Bashrah dan semacamnya. Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah Al-Sa’di al-Maliki al-Makki, dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ( ta’liq ) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. 905 H).

Adapun Ibnu Aqil (w. 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Penulis berpendapat, bahwa kitab ini adalah Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren, dan banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlariy. 
Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. 929 H). Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing. Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibnu Malik, Al-Muradi, Ibnu Aqil, Al-Sayuthi, dan Ibnu Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya.
KITAB-KITAB KARANGAN IMAM IBNU MALIK.

Beliau memiliki banyak karangan, diantaranya;
  • 1.KITAB ALFIYYAH, yang juga dinamakan AL-KHULASHOH
  • 2.KITAB AL-KAFIYAH dan syarahnya
  • 3.KITAB KAMALUL UMDAH dan syarahnya
  • 4.KITAB LAMIYATUL AF’AL
  • 5.KITAB TASHIL dan syarahnya
  • 6.KITAB Al-‘ALAM
  • 7.KITAB Al-TAUDHIH
  • 8.KITAB Al_QOSIDAH Ath-THOIYYAH
  • 9.KITAB TASHILUL FAWAID

karya beliau yang sangat terkenal digunakan diseluruh dunia, dicintai para pelajar dan para ulama’ adalah kitab alfiyyah.
Karya emas beliau yang lain, yg cukup terkenal bernama Kitab Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu Bait Nadzam yang juga bersyair Bahar Rojaz. Juga Kitab lainnya, karangan beliau yang terkenal bernama: Nadzam Lamiyah al-Af’al yang membahas Ilmu Sharaf, Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud. Semuanya membahas tentang Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf.
KISAH SINGKAT IMAM IBNU MALIK MENGARANG KITAB ALFIYYAH.
Imam ibnu malik sewaktu mengarang nadlom alfiyyah, setelah mendapatkan seribu bait, beliau ingin menulis kembali karyanya, namun ketika sampai pada bait;
“FAIQOTAN MINHA BI ALFI BAITIN”
(Alfiyyah ibnu malik mengungguli alfiyyah ibnu Mu’thi dengan menggunakan seribu bait) beliau tidak mampu meneruskan karangannya dalam beberapa hari, kemudian beliau bermimpi dalam tidurnya bertemu seseorang, dan orang itu bertanya;
“katanya kamu mengarang seribu bait yang menerangkan ilmu nahwu”.?
imam ibnu malik menjawab; “iya”
orang itu lalu bertanya; “ sampai dimana karanganmu?”
lalu dijawab; ”sampai pada bait…FAIQOTAN MINHA BIALFI BAITIN”.
Apa yang menyebabkan kamu tercegah menyempurnakan  bait itu?”
lalu dijawab; “saya tidak mampu meneruskan sejak beberapa hari”
lalu ditanya;”apakah kamu ingin menyempurnakannya?”
dijawab “iya”
lalu orang itu berkata; “orang yang masih hidup mampu mengalahkan seribu orang yang mati”
Ibnu malik berkata;” apakah kau ini guruku?, imam ibnu mu’thi?”
lalu dijawab “iya”
kemudian imam ibnu malik merasa malu,dan paginya mengganti separuh bait tersebut dengan bait;
وَهْوَ بِسَبْقِ حَائِزٌ تفضِيْلَا  #  مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ اْلجَمِيْلَا

(ibnu mu’thi memperoleh kedudukan utama, karena beliaulah yang memprakarsainya,dan sepantasnyalah pujian baikku untuknya).Setelah itu imam ibnu malik mampu menyelesaikan kembali karangannya hingga sempurna.
Baik…kini kembali ke pokok judul pembahasan,Redaksi akan berbagi tips trik dalam menghafal bait nadzom alfiyah dan Nadzom Matan lain nya seperti Al Jurumiyyah ( nahwu),Al Imrithi (nahwu),Jauharul Maknun (Balaghoh ) Dll.
Ada beberapa Saran yg saya dapatkan dari beberapa sumber dan cerita mengenai hal-hal yg sebaiknya di lakukan sebelum dan selama proses penghapalan. saran ini berlaku juga untuk menghapal bidang ilmu yang lain terlebih dalam menghafal Al-Qur’an (Tahfidzul Qur’an) karena nadzom Alfiyah begitu banyak 1002 bait,tdk seperti matan Aljjurumiyyah,Alimrithi,Jauharul maknun,dan banyak sekali lafadz’’ yg asing ( Ghorobah )dan sulit utk di ucapkan (Tanafur fi lisan),yg banyak terdapat di 500 bait terakhir nadzom Alfiyah.
Sebelum Menghafal.

***Berdo’a dan hadiah fatihah / tawwasul kepada Mushonif/Pengarang Kitab.Bila memungkinkan Usahakan sholat hajat 2 rekaat dan berdo’a sebelum menghafal.

*** Diri kita sebaiknya dalam keadaan suci baik dari hadas kecil maupun hadas besar.

*** Selalu mengawali menghafal dengan Membaca bismillah dan do'a serta diakhiri dengan membaca hamdallah dan do'a.       

*** Sediakan waktu yang tetap untuk menghapal dalam setiap harinya.Misalnya pada pagi hari kita melakukan hapalan selama 2 jam, siang 1 jam, dan sore 2 jam. Kemudian ulangi lagi di hari berikutnya pada waktu yang sama dengan jumlah jam yang sama. Alangkah lebih baik bila waktu yang di gunakan untuk menghafal/belajar yaitu waktu yg seperti yg di cantumkan dalam kitab ta'limul muta'alim.Yaitu di sepertiga malam. 
*** Usahakan menghapal di tempat yang tenang, terhindar dari sesuatu yang dapat menggangu konsentrasi. Bila perlu jauhkan/matikan handphone.

*** Jangan menganggap sulit hafalan, karna hal ini akan menjadikan sebuah sugesti negatif pada diri anda.
*** POIN PENTING…..Harus Fokus selama proses menghafal ini,jangan sampai terlena oleh godaan godaan lain,Terlebih godaan Wanita / pasangan anda. Kenapa.? Karna di Nadzom Alfiyyah pun sudah di sebutkan :
()  فَأَلِّفُ التَّأْنِيْسِ مُطْلَقَا مَنَعْ  #  صَرْفَ اَّلذِيْ حَوَاهُ كَيْفَمَا وَقَعْ

Yang ma’na tafsirinya seperti yang di tekankan oleh salah satu dari Seorang Kyai.:
Cinta seorang laki laki kepada perempuan itu akan mencegah secara mutlak dari kesuksesan angan angan Dalam hal ini adalah Menghafal Nadzom Alfiyyah.

Teknik menghafal Nadzom/ Matan Ilmiah. 

1. Jika matan tersebut merupakan kumpulan hadits, maka janganlah menghafal lebih dari 5 samapi 10 hadits setiap hari (agar tidak sulit menjaganya).

2. Jika matan tersebut berbentuk prosa, maka janganlah menghafal lebih dari 5 sampai 10 baris setiap hari.

3. Jika matan tersebut berbentuk syair, maka janganlah menghafal lebih dari 10 sapai 15 bait setiap hari.

Tikror /Mengulang Hafalan. 

1.Hafalkan setiap potongan teks/matan dengan cara mengulanginya 20 kali sesudah waktu subuh dan juga setelah waktu ashar.

2. Jika anda sedang menghafal – sebagai contoh – Alfiyah Ibnu Malik, maka sebelum anda menghafal bait yang baru, bacalah bait yang telah anda hafal pada hari sebelumnya sebanyak 20 kali. Kemudian bacalah menggunakan hafalan/tanpa teks – dari awal matan Alfiyah sampai kepada bait baru yang hendak dihafal. Demikianlah ulangi cara ini setiap hari sampai hafalan anda kuat. 
Tempuhlah jalan ini dalam menghafal setiap matan sambil terus mempelajari ilmu agama, menghadiri majelis-majelis ulama/ustad serta menanyakan masalah-masalah ilmiah yang membingungkan anda kepada ahlinya.

3. POIN PENTING : jangan segan untuk mencari relawan/teman anda utk mengetes hafalan anda. Misal teman anda suruh menyebutkan bait berapa.?bunyi nya apa.? Secara acak dan kontinyu.
Jika memang sudah hafal betul ,Coba tes seberapa kuat hafalan anda,dengan Tikror / Mengulang hafalan di keadaan/tempat ramai. Hal ini akan manjur sekali untuk melatih Konsentrasi kuat nya hafalan anda.
Dengan catatan,jika anda sudah hafal dan dalam masa Tikror / mengulang.

Pengulangan hafalan merupakan jalan paling utama untuk menjaga hafalan. Cara inilah yang telah dipraktekkan oleh para ulama dari dulu hingga sekarang. Adalah Abu Ishaq Asy-Syiraazi mengulangi pelajaran sebanyak seratus kali dan adapun Al-Haraasi mengulanginya sebanyak 70 kali.Dengarkanlah kisah berikut yang menunjukkan kepada anda bahwa sedikitnya pengulangan akan membuat anda cepat melupakan hal yang telah dihafal:

Berkata Ibnul Jauzi: Al-Hasan – yakni Ibnu Abi Bakr An-Naisaaburi – menceritakan tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran dirumahnya berkali-kali. Maka berkatalah seorang wanita tua di rumahnya: ‘Cukup, demi Allah, sesungguhnya akupun telah ikut hafal’.
Maka berkatalah si faqih: ‘Ulangilah apa yang telah engkau hafal’, maka wanita tua itu mengulanginya.
Setelah beberapa hari, si faqih berkata kembali: ‘Wahai wanita tua, ulangilah pelajaran yang waktu itu’
maka ia berkata: ‘Aku tidak hafal lagi’.
Berkata si faqih: ‘Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan)’

Maka kesimpulannya, jalan untuk mendapatkan hafalan yang mendalam adalah dengan rajin melakukan pengulangan.

Bagaimana cara muraja’ah/pengulangan hafalan matan ilmiah?

Jika anda telah menghafal berbagai matan-matan ilmiah, maka lakukanlah muraja’ah/pengulangan seluruh matan yang telah dihafal sekali dalam sebulan. Hal ini agar anda mendapatkan hafalan yang lebih dalam dan lebih tepat serta anda lebih cepat dalam pengambilan dalil dengannya.

Catatan:
semua metode penghafalan hanyalah sebuah alat bantu dalam proses menghafal. Karna sesungguhnya kunci kesuksesan dan keberhasilan tergantung pada diri kita. Sejauh mana kita istiqomah, sejauh mana kita punya keinginan, sejauh mana kita berusaha.


*** Di sadur dari berbagai sumber dan Teknik hafalan penulis.
*** Wallohu ‘Alam
*** Semoga Bermanfaat.
*** Redaksi Hisab Pati.