وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tidak Aku utus Engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’: 107).
Ayat Al-Quran di atas menegaskan bahwa tugas utama dan terbesar dari kenabian Muhammad SAW adalah menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Istilah rahmat dalam ayat di atas identik dengan perdamaian, kelembutan, kasih sayang, dan hal-hal lain yang berlawanan dengan kekerasan ataupun laknat. Sedangkan istilahlil’âlamîn (bagi alam semesta) berarti semua ciptaan Tuhan tanpa terkecuali; mulai dari manusia di semua agama dan keyakinannya, hewan-hewan dengan semua tabiatnya, hingga benda-benda mati di semua bentuknya.
Dengan demikian, ayat Al-Quran di atas merupakan tuntunan bagi segenap kaum muslimin agar senantiasa berpedoman dan mengedepankan ajaran kerahmatan dalam menjalin hubungan dengan para makhluk ciptaan Tuhan. Di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Karena hal ini merupakan spirit utama dari ajaran Islam, sebagaimana disampaikan oleh ayat Al-Quran di atas.
Sepanjang hayat dan perjuangannya, Nabi Muhammad SAW menunjukkan konsistensi dalam mewujudkan kehidupan yang bersemangat cinta-kasih. Dalam mengedepankan Islam yang rahmat, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menunjukkan sikap kebencian dan permusuhan terhadap siapa pun. Beliau adalah pembawa kasih sayang dan kedamaian bagi seluruh alam semesta.
Pertanyaannya adalah, mengapa ayat Al-Quran di atas menyebutkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta? Tidak lain jawabannya karena manusia membutuhkan kedamaian dalam hidup, bukan kekerasan. Agama adalah damai dan senantiasa menyeru manusia untuk hidup dalam damai, tenang, dan tentram. Sehingga mereka dapat memperoleh rahmat berupa ketenangan, ketentraman dan kedamaian.
Muhammad Husain Haekal dalam kitabnya berjudul Hayat Muhammad(Kehidupan Nabi Muhamamd) menorehkan kisah mengesankan terkait dengan sejarah dan sepak terjang Nabi Muhammad SAW dalam menebarkan ajaran kasih sayang.
Alkisah, suatu ketika seorang pandir Quraisy mencegat Nabi Muhammad SAW di tengah jalan dan menyiramkan tanah ke atas kepalanya. Nabi Muhammad SAW diam menahan pedih. Lalu Nabi Muhammad SAW pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Putri beliau, Fatimah Az-Zahra, membersihkan kepala ayahnya sambil menangis.
Tentu saja, bagi seorang ayah, tak ada yang lebih pilu daripada tangisan putri kesayangannya. Setitik air mata kesedihan yang mengalir dari kelopak mata sang putri tak ubahnya sepercik api yang membakar jantung seorang ayah.
Nabi Muhammad SAW pun tak kuasa menahan getir, lalu menangis tersedu-sedu di sisi sang putri yang kelak menjadi orang pertama yang menyusulnya ke alam baka. Tetapi, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang sabar dan pemaaf. Beliau tidak mau menyulut rintihan jiwanya dan putrinya dengan emosi untuk membalas dendam. Nabi Muhammad SAW menghadapkan jiwanya kepada Allah seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu.
Dan masih banyak lagi kisah teladan Nabi Muhammad SAW yang tidak menyukai kekerasan, dalam bentuk dan sebab apa pun, termasuk dalam peperangan. Diceritakan Nabi Muhammad SAW pernah menemukan seorang perempuan mati terbunuh. Kejadian itu membuat Nabi gusar dan melarang pembunuhan perempuan dan anak-anak (Shahih Muslim, No, 457), dan melarang orang Islam agar tak menghancurkan tempat-tempat ibadah dan menebang pepohonan. Nabi juga bersabda, Janganlah kamu berharap ketemu musuh, apabila terpaksa bertemu, maka bersabarlah (Shahih Bukhari, No. 2833).
Membalas dengan Kebaikan
Begitulah Nabi Muhammad SAW secara manis dan mengesankan menolak kekerasan dengan kebaikan. Sebagai balasan atas kekerasan dan kejahatan yang dilakukan pandir Quraisy di atas, Nabi Muhammad SAW justru mendoakan supaya Allah memberinya hidayah, bukan malah membalas dengan kekerasan, pengrusakan, pembunuhan dan lainnya.
Dalam menyikapi kejahatan, dosa, dan perbuatan maksiat orang lain, kita tidak bisa serta-merta melakukan penghakiman dan kekerasan. Selalu ada jalan lain yang dapat dilakukan demi sebuah perbaikan. Tindakan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lanjutan, seperti kerusuhan, kekacauan dan ketegangan sosial. Kekerasan bukanlah solusi. Justru kekerasan membuat kita semakin terjauhkan dari tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai. Bahkan kekerasan acapkali hanya menumbuhkan sikap antipati dan penolakan terhadap nilai-nilai kebaikan yang didakwahkan.
Atas nama apa pun, kekerasan sangat dilarang dan diharamkan. Allah berfirman di dalam Al-Quran: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (QS. Al-Mukminûn: 96).
Kepada orang yang terang-terangan menghina, mengejek Islam dan tidak mau masuk Islam sekalipun, Nabi Muhammad SAW tetap bersikap bijaksana. Beliau bersabda, Aku tidak akan memperlakukan mereka dengan kejam, supaya Allah tidak memperlakukanku demikian, sekali pun aku seorang Nabi (Ibn Hisyam, As-Sîrah An-Nabawiyyah: 487). Pernyataan Nabi tersebut dilatarbelakangi oleh sikap keberatan sahabat Umar bin Khattab untuk membebaskan begitu saja Suhail ibn ‘Amr. Sahabat Umar bin Khattab menginginkan agar dua gigi seri Suhail ibn ‘Amr dicabut terlebih dahulu sebelum dibebaskan, sebab dia sering sekali menghina dan merendahkan Nabi Muhammad SAW.
Tugas utama agama Islam adalah menjaga nilai-nilai universal seperti kedamaian dan persaudaraan. Islam tidak membawa kobaran api kekacauan dan kekerasan. Meskipun dalam beberapa fase sejarahnya Islam menyimpan “pengalaman kekerasan” (seperti halnya agama lain), namun kekerasan tersebut selalu terkait dengan keadaan tertentu seperti dalam rangka melindungi diri dan negara. Di luar itu, Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk berbuat kekerasan, apalagi terhadap umat agama lain.
Kekerasan atas nama Islam seringkali terjadi karena bumbu-bumbu kepentingan politik sesaat dengan menggunakan simbol-simbol agama. Sebagaimana telah dimaklumi, agama merupakan lahan yang paling rawan disusupi kepentingan politik, seperti dalam Pilkada, Pemilu dan lain sebagainya.
Menurut hemat penulis, kekerasan dapat dihindari dengan beberapa cara.Pertama, bersikap sabar. Banyak ayat dan Hadis yang menyampaikan keutamaan sabar. Ajaran kesabaran adalah kekuatan pengimbang dan pengendali manusia agar tidak melakukan kekerasan. Orang yang kuat bukanlah yang bisa menjatuhkan seseorang ke tanah, namun orang yang bisa mengendalikan diri ketika dia marah.
Kedua, memaafkan orang lain. Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang kesalahan dan prilaku negatif pembantunya, Nabi menjawab,Maafkanlah dia tujuh puluh kali dalam sehari. Hadis ini hendak menegaskan bahwa pemberian maaf tidak ada batasnya.
Al-Quran secara kategoris memang menegaskan bahwa dosa syirik tidak akan mendapatkan pengampunan Allah (QS. An-Nisâ’: 48). Akan tetapi ada beberapa ahli tafsir yang berpendapat bahwa ayat tersebut ditafsir secara lebih rinci oleh ayat lain yang mengatakan bahwa dosa apa pun, termasuk dosa syirik, akan diampuni oleh Allah selama dosa itu disesali dan tidak diulangi. Dalam ayat Al-Quran yang lain Allah berpesan, Maafkanlah dan ampunilah. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu? (QS. An-Nûr: 48).
Ketiga, membalas kejahatan dengan kebaikan. Dalam pandangan Islam, dosa atau kesalahan adalah sebuah prilaku, sedangkan pelakunya wajib kita kasihi. Al-Quran sering mengingatkan, betapa pun tidak setuju dengan sikap dan tindakan orang lain, kita dituntut untuk tetap menghormati dan menjalin hubungan baik (silaturrahim) dengan orang yang bersangkutan.
Demikianlah, bila ingin hidup bahagia, aman, dan damai di tengah-tengah masyarakat yang beragam, maka kita sebagai mukmin harus “menjadi baik”. Karena menjadi baik akan membuat orang lain tidak melakukan kekerasan dalam menyelesaikan masalah apa pun. Umat yang demikian akan selalu berbuat baik kepada orang lain sebelum orang lain berbuat baik kepadanya. Seseorang membencinya, tapi dia justru mencintai orang tersebut. Dan manakala orang mencintainya, pastilah dia lebih mencintai lagi orang tersebut. Wallahu a’lam.
KH. Kalimuddin Siregar., Pembina Yayasan Panjiaswaja, Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar